Tidak ada demokrasi yang sehat jika penguasa mulai memandang wartawan sebagai lawan. Kritik boleh dibalas dengan data, fakta, dan argumentasi. Namun, ketika kritik dibalas dengan pelabelan seperti “londo ireng”, yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan wartawan, melainkan kualitas demokrasi itu sendiri.
Kata-kata seorang presiden bukan sekadar percakapan biasa. Setiap kalimat yang keluar memiliki bobot politik, membentuk persepsi publik, dan menjadi contoh bagi para pejabat di bawahnya. Ketika profesi wartawan diberi stigma, pesan yang dapat ditangkap sebagian orang adalah bahwa jurnalis layak dicurigai, bahkan dimusuhi.
Padahal pers tidak dipilih untuk menyenangkan penguasa. Pers hadir untuk mengawasi kekuasaan. Sejak awal, fungsi pers memang bukan menjadi pengeras suara pemerintah, melainkan memastikan kekuasaan tetap berjalan di jalur hukum, transparansi, dan kepentingan rakyat.
Tidak ada presiden yang kebal dari kritik. Tidak ada pejabat yang berhak menuntut pujian tanpa pengawasan. Jika setiap kritik dianggap sebagai serangan, maka yang sedang diuji bukan loyalitas wartawan, melainkan kedewasaan pemimpin dalam menerima kontrol publik.
Sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan yang mulai alergi terhadap kritik sering kali sedang kehilangan keberanian untuk menghadapi fakta. Kritik tidak menjatuhkan negara. Justru membungkam kritiklah yang perlahan menggerogoti sendi-sendi demokrasi.
Wartawan bukan musuh republik. Wartawan bekerja di bawah Undang-Undang Pers, memegang Kode Etik Jurnalistik, dan dapat dimintai pertanggungjawaban apabila melanggar aturan. Jika ada berita yang keliru, negara telah menyediakan mekanisme hak jawab, hak koreksi, dan penyelesaian melalui Dewan Pers. Itulah cara negara hukum bekerja.
Menghormati pers bukan berarti kebal dari pemberitaan negatif. Menghormati pers berarti menghormati hak rakyat untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh mereka yang diberi amanah mengelola negara.
Pada akhirnya, ukuran seorang negarawan bukanlah seberapa keras ia berbicara kepada pengkritiknya, melainkan seberapa lapang ia menerima kritik sebagai bagian dari tanggung jawab kekuasaan. Sebab kekuasaan datang dan pergi, tetapi kebebasan pers adalah warisan demokrasi yang harus dijaga oleh setiap generasi.
Catatan Redaksi :01/cts/2026





