Siswi MTsN 1 Pesawaran Mengaku Alami Dugaan Pelecehan Seksual, Guru Berinisial MRO Disebut dalam Keterangan

Pesawaran, 24 September 2026 — Seorang siswi MTsN 1 Pesawaran mengaku mengalami sejumlah tindakan yang menurut keterangannya mengarah pada dugaan pelecehan seksual oleh seorang guru laki-laki berinisial MRO, yang juga disebut sebagai wali kelasnya.

Keterangan tersebut disampaikan siswi dalam sebuah rekaman wawancara yang diperoleh awak media. Rekaman itu menjadi salah satu bahan awal dalam penelusuran, sementara keterangan dari pihak-pihak lain masih diperlukan untuk memastikan rangkaian peristiwa yang diceritakan.

Cerita tersebut bermula ketika siswi dipanggil guru Bimbingan Konseling (BK) ke ruang BK karena tidak masuk sekolah.

Saat ditanya mengenai alasan ketidakhadirannya, siswi mengaku menjawab bahwa dirinya kurang sehat. Namun setelah dilakukan pengecekan absensi bersama wali kelas, alasan yang tercatat disebut berbeda, yakni karena ada keperluan keluarga.

Perbedaan keterangan tersebut kemudian membuat pihak BK disebut berencana memanggil orang tua siswi untuk meminta penjelasan.

Setelah kembali ke kelas, siswi mengaku kembali dipanggil MRO. Ia disebut akan dibawa ke ruang BK. Namun, menurut keterangannya, dirinya justru dibawa ke ruangan penyimpanan peralatan drumband.

Di ruangan tersebut, siswi mengaku pintu kemudian ditutup. MRO disebut membicarakan persoalan surat panggilan orang tua.

“Ayo gimana kamu mendapat surat panggilan, nanti ibu mu marah,” demikian ucapan yang menurut siswi disampaikan MRO.

Siswi mengaku ketakutan hingga menangis. Dalam kondisi tersebut, ia mengatakan MRO kemudian memeluk dirinya dan mencium bagian sekitar matanya.

“Saya yang pertama kali mencium air mata kamu,” demikian ucapan yang menurut pengakuan siswi disampaikan MRO.

Menurut siswi, MRO juga sempat berbicara mengenai kondisi keluarganya. Ia mengaku guru tersebut mengatakan dirinya bisa menjadi tempat untuk bercerita, sambil memegang wajah siswi.

Siswi juga menceritakan kejadian lain yang menurut pengakuannya pernah terjadi sebelumnya. Ia mengaku pernah dipeluk dari belakang oleh MRO.

Sementara informasi mengenai adanya teman yang disebut pernah melihat MRO mencium bagian kepala siswi masih perlu dikonfirmasi kepada orang yang disebut sebagai saksi.

Dugaan tindakan bernuansa seksual lainnya disebut terjadi saat persiapan pemotretan foto ijazah.

Menurut pengakuan siswi, ketika dasinya sedang dirapikan, MRO ikut membantu. Dalam proses tersebut, siswi mengaku MRO beberapa kali menyenggol bagian payudaranya.

Siswi mengaku sempat mengatakan bahwa dasinya sudah rapi. Namun, menurut keterangannya, MRO tetap memegang bagian dasi dan kembali menyenggol bagian payudaranya.

Siswi menyatakan dirinya merasa tidak nyaman dengan kejadian tersebut.

Selain keterangan siswi, awak media juga memperoleh keterangan dari kakaknya yang mengaku pernah mengalami kejadian yang menurutnya hampir serupa dengan guru yang sama. Namun, pengalaman kakak tersebut berbeda karena, menurut keterangannya, tidak melibatkan kontak fisik dan berkaitan dengan komunikasi melalui WhatsApp.

Keterangan kakak tersebut merupakan peristiwa yang berbeda dan tidak serta-merta menjadi bukti atas kejadian yang dialami siswi. Informasi tersebut tetap akan ditempatkan sebagai bahan pendalaman tersendiri, termasuk dengan mencocokkan keterangan dan isi komunikasi WhatsApp apabila diperlukan.

Di lingkungan siswa juga berkembang informasi mengenai adanya siswi lain yang disebut pernah mendapatkan perlakuan serupa. Namun, informasi tersebut sejauh ini masih berupa cerita yang berkembang dan belum terkonfirmasi.

Persoalan yang diceritakan siswi kemudian diketahui sejumlah teman. Ketua OSIS disebut sempat memanggil siswi untuk membantu memperjelas persoalan tersebut. MRO juga disebut hadir dalam pertemuan itu.

Menurut keterangan siswi, dalam pertemuan tersebut MRO membantah atau mengelak dari dugaan perlakuan yang disampaikan kepadanya.

Pada kesempatan lain, siswi mengaku terdapat guru lain yang mencoba membantu MRO meminta maaf kepadanya. Guru tersebut juga disebut meminta agar persoalan itu tidak diceritakan kepada pihak lain. Keterangan ini masih perlu dikonfirmasi kepada guru yang bersangkutan maupun pihak lain yang mengetahui.

Sementara itu, konfirmasi awal telah dilakukan kepada Kepala MTsN 1 Pesawaran melalui WhatsApp.

Saat ditanya apakah berada di kantor dan dapat ditemui untuk menyampaikan sejumlah pertanyaan, Kepala Madrasah mengatakan dirinya berada di kantor, tetapi sedang menerima tamu dari Kanwil Kemenag Lampung.

“Ada, tapi masih ada tamu Pak Kanwil,” jawabnya.

Awak media kemudian menyampaikan bahwa keberadaan pihak Kanwil bisa menjadi kesempatan untuk menyampaikan persoalan tersebut secara langsung.

“Cocok Pak. Biar saya langsung ngomong sama Pak Kanwil,” jawab awak media.

Namun, Kepala Madrasah meminta agar pembicaraan ditunda karena kunjungan tersebut berkaitan dengan pekerjaannya sebagai kepala madrasah.

“Jangan dulu, ini kunjungan tentang kerjaan saya selaku kepala madrasah,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa dirinya masih relatif baru di lingkungan madrasah tersebut dan masih mempelajari karakter para guru.

“Sabar dulu, saya juga kan di sini baru, belum hapal dengan karakter guru di sini, masih tak pelajari,” katanya.

Hingga rilis awal ini disusun, dugaan pelecehan seksual tersebut masih dalam tahap pendalaman. Keterangan siswi dalam rekaman menjadi salah satu bahan informasi awal, sedangkan keterangan kakak, informasi dari siswa lain, serta keterangan saksi masih perlu diverifikasi secara terpisah.

Konfirmasi juga masih diperlukan kepada MRO sebagai guru yang disebut dalam keterangan siswi, pihak madrasah, guru BK, Ketua OSIS, guru lain yang disebut mengetahui persoalan, saksi-saksi, orang tua siswi, serta pihak Kanwil Kemenag Lampung.

Rilis ini tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan bahwa MRO telah melakukan pelecehan seksual sebelum adanya klarifikasi dan pemeriksaan terhadap pihak-pihak terkait. Identitas siswi tidak dicantumkan untuk menjaga perlindungan terhadap anak.

MRO dan pihak-pihak lain yang disebut dalam pemberitaan ini tetap memiliki ruang untuk memberikan klarifikasi dan hak jawab.

Catatan redaksi: Rekaman wawancara, komunikasi WhatsApp, dan keterangan pihak terkait menjadi bahan verifikasi redaksi dan tidak seluruhnya dipublikasikan untuk menjaga privasi serta perlindungan terhadap anak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *