Antara Loyalitas dan Fanatisme
Fanbase adalah kumpulan penggemar berat yang sangat mendukung kandidat idolanya. Mereka merasa memiliki hak eksklusif untuk memuji atau mencaci kandidat lainnya. Sayangnya, dalam upaya mendukung jagoannya, mereka sering kali terjebak dalam fanatisme buta yang mengarah pada provokasi dan penghinaan terhadap lawan. Gaya mereka yang sok tahu, seperti ahli politik, sering kali menyesatkan dan memperkeruh suasana.
Fanatisme ini, sayangnya, seringkali membuat mereka kehilangan objektivitas dan lupa bahwa tindakan provokatif mereka dapat menjadi bumerang.
Satu cuitan di media sosial yang penuh caci maki bisa dengan cepat menyebar dan menjadi bola salju yang menghantam balik. Mereka sering kali lupa bahwa apa yang dibangun dengan kebencian bisa runtuh dengan cara yang sama.
Kecewa yang Berujung Provokasi
Di sisi lain, ada kelompok yang kental dengan sebutan barisan sakit hati, adalah mereka yang merasa kecewa dan terpinggirkan. Kelompok ini tak kalah vokal dalam menyuarakan kekecewaannya, seringkali dengan nada yang sama provokatifnya. Mereka mencaci lawan dengan harapan dapat menjatuhkan mental mereka, namun sering kali justru memperlihatkan ketidakdewasaan dalam berpolitik. Mereka melabeli lawan sebagai “Penjilat” yang tak tahu malu, tanpa menyadari bahwa tindakan mereka mencerminkan hal yang sama.
Baik fanbase maupun barisan sakit hati yang sama-sama berusaha merebut simpati masyarakat, tentunya ada sebuah maksud dan kepentingan tertentu. Namun terkadang dendam pribadi turut mengiringi maksud yang di embannya, menghembuskan isu-isu negatif yang sangat tidak layak dikonsumsi masyarakat. Tak jarang diantara keduanya dihalalkan menggunakan cara-cara yang licik dan bersahabat dengan kemunafikan demi tercapainya tujuan yang tidak ada ujungnya.
Harapan di Tengah Kegaduhan
Di tengah riuh rendah suara Fanbase dan barisan sakit hati, kita sebagai penonton hanya bisa berharap bahwa dari semua drama ini, terpilihlah pemimpin yang benar-benar mampu membawa perubahan positif. Penting bagi kita semua untuk menyadari bahwa pemilu bukanlah sekadar ajang unjuk gigi, tetapi kesempatan untuk memilih pemimpin yang dapat mengemban amanah dan membawa kemajuan bagi daerahnya.
Lebih dari itu, para fansbes dan barisan sakit hati perlu belajar untuk lebih bijak dalam berpolitik. Kebencian dan provokasi hanya akan merusak tatanan sosial dan menciptakan ketidakpercayaan di antara masyarakat. Pemilu adalah untuk kepentingan bersama, bukan ajang untuk menjatuhkan satu sama lain. Hanya dengan sikap yang lebih bijak dan objektif, kita bisa memastikan bahwa demokrasi kita berjalan dengan sehat dan menghasilkan pemimpin yang benar-benar layak.
Dalam jangka panjang, pengalaman dalam berpolitik akan membawa kita lebih baik dan kampanye yang mengedepankan program kerja nyata akan lebih diterima masyaraka dibandingkan provokasi untuk membenci pribadi atau kelompok tertentu. Kita semua memiliki peran dalam menciptakan iklim politik yang sehat, dan itu dimulai dari diri kita sendiri, bagaimana kita berinteraksi dan berbicara tentang politik di media sosial maupun di kehidupan sehari-hari. Semoga dengan pemahaman ini, drama lima tahunan pemilihan kepala daerah bisa menjadi lebih konstruktif dan bermanfaat bagi semua.
Karya: Fitron Abdul Jaelani